Hutan adat yang dikelola masyarakat Punan Uheng Kereho di Kabupaten Kapuas Hulu tidak hanya berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga menyimpan potensi kekayaan hayati, salah satunya adalah tanaman akar bajakah yang mulai dikenal luas karena khasiatnya.

Kawasan hutan yang berada di sekitar Taman Nasional Betung Kerihun ini menjadi habitat alami berbagai jenis tanaman obat, termasuk bajakah yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat adat secara tradisional.
Tanaman Bajakah dan Pemanfaatan Tradisional
Bagi masyarakat Punan Uheng Kereho, akar bajakah bukanlah hal baru. Tanaman ini telah digunakan secara turun-temurun sebagai bagian dari pengobatan tradisional untuk menjaga daya tahan tubuh dan mengatasi berbagai keluhan kesehatan.
Pemanfaatannya dilakukan secara sederhana, biasanya dengan cara direbus dan diminum airnya. Praktik ini menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang diwariskan antar generasi.
Kekayaan Hutan yang Dijaga Secara Alami
Keberadaan tanaman bajakah tidak terlepas dari kondisi hutan yang masih terjaga. Pola pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal membuat berbagai jenis tanaman obat tetap tumbuh secara alami tanpa eksploitasi berlebihan.
Masyarakat adat hanya mengambil seperlunya, sehingga keberlanjutan tanaman tetap terjaga. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan tradisional memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mempertahankan sumber daya hayati.
Potensi Ekonomi dan Tantangan Keberlanjutan
Seiring meningkatnya perhatian terhadap tanaman bajakah, potensi ekonomi dari komoditas ini mulai terlihat. Namun demikian, masyarakat menyadari bahwa pemanfaatan yang tidak terkendali justru dapat mengancam keberadaannya di alam.
Tanpa pengelolaan yang bijak, eksploitasi berlebihan dapat merusak habitat dan mengganggu keseimbangan hutan. Oleh karena itu, perlindungan terhadap wilayah hutan adat menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan tanaman ini.
Peran Masyarakat Adat dalam Menjaga Keanekaragaman Hayati
Masyarakat Punan Uheng Kereho memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan tanaman seperti bajakah. Dengan sistem pengelolaan berbasis adat, mereka secara tidak langsung melindungi berbagai jenis flora yang memiliki nilai ekologis dan potensial secara ekonomi.
Keberadaan mereka di dalam kawasan hutan bukan menjadi ancaman, melainkan bagian dari sistem yang menjaga kelestarian lingkungan.
Akar bajakah yang tumbuh di wilayah hutan adat Punan Uheng Kereho menjadi salah satu contoh kekayaan hayati yang lahir dari hutan yang terjaga. Potensi yang dimiliki tanaman ini tidak hanya bernilai kesehatan, tetapi juga ekonomi, selama dikelola secara berkelanjutan.
Menjaga hutan adat berarti menjaga sumber kehidupan sekaligus potensi masa depan yang terkandung di dalamnya.
