Masyarakat adat Punan Uheng Koreho di Dusun Nanga Enap, Desa Cempaka Baru, menggelar pesta syukur panen atau Gawai Dayak bertajuk “Hajo’ Mua Pare Tengane” pada 19–22 Mei 2026. Perayaan tersebut menjadi momentum penting bagi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan adat, mempererat solidaritas, serta menghormati warisan leluhur yang telah hidup selama ratusan tahun.
Rangkaian kegiatan dimulai pada 19 Mei melalui ritual pemindahan tuvung adat yang berlangsung khidmat dan penuh penghormatan. Tuvung tersebut dipercaya telah berusia lebih dari setengah milenium dan hingga kini masih dijaga oleh masyarakat Punan Uheng Koreho sebagai pusaka leluhur yang memiliki nilai sejarah tinggi.



Prosesi Ritual Pemindahan Tuvung Adat
Bagi masyarakat adat, tuvung menjadi simbol identitas dan kesinambungan budaya yang diwariskan lintas generasi. Prosesi pemindahan dilakukan secara adat dengan melibatkan tokoh masyarakat, tetua adat, dan warga setempat. Kehadiran ritual ini memperlihatkan kuatnya hubungan masyarakat dengan nilai-nilai tradisional yang tetap dipertahankan di tengah perkembangan zaman.
Pada 20 Mei, pelaksanaan pesta syukur panen dilanjutkan dengan misa syukur panen yang dipimpin oleh Pastor Gatot bersama RM. Aran dan RM. Egis. Misa berlangsung dalam suasana religius dan penuh rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh masyarakat sepanjang tahun.

Misa Syukur Panen
Doa-doa dipanjatkan agar masyarakat diberikan keberkahan, kesehatan, serta hasil pertanian yang baik pada musim berikutnya. Perpaduan antara adat dan nilai keagamaan terlihat berjalan harmonis dalam keseluruhan rangkaian kegiatan.
Kegiatan tersebut juga turut dihadiri oleh Ketua DPP Paroki Jhon Saung, S.Pd., beserta anggota DPP, serta perwakilan WKRI yang hadir memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya dan penguatan kehidupan sosial masyarakat adat Punan Uheng Koreho.
Selanjutnya pada 22 Mei, masyarakat melaksanakan ritual nikah adat massal yang menjadi bagian penting dalam tradisi Gawai Dayak tahun ini. Prosesi tersebut menampilkan tata adat pernikahan khas Punan Uheng Koreho yang masih dijaga dan dilaksanakan secara turun-temurun.






Pelaksanaan Nikah Adat Masalah
Pelaksanaan Gawai Dayak “Hajo’ Mua Pare Tengane” menunjukkan bahwa masyarakat Punan Uheng Koreho masih memiliki keterikatan kuat terhadap budaya leluhur. Tradisi yang terus dipertahankan tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga identitas budaya lokal agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda di masa mendatang.


